Balikan sama mantan?? kenapa tidak…
Jan 14th, 2010 by navirius
Masa-masa berpacaran sudah pasti diselingin sama yang namanya tengkar, debat, dan yang paling parah adalah keputusan untuk berpisah. Tapi bagaimana pula jika kita kembali lagi menjalin hubungan cinta dengan kekasih yang dulu, yang sempat bertengkar, saling menyakiti sehingga pada suatu keputusan untuk berpisah. Haruskah di sebut sebagai penjilat ludah sendiri??
Saya kira tidak, tidak pernah ada yang salah dengan kembali dengan mantan pacar dulu, sama halnya dengan tidak ada yang salah dengan cinta, sedikit-dikitnya tidak ada yang salah, tapi kadang mungkin cinta hadir di tempat dan waktu yang salah, bukan cintanya yang salah.
Kembali menjalin hubungan dengan mantan memang indah (menurut beberapa orang), tapi juga kadang menyakitkan (menurut beberapa orang juga), tapi yang sering menjadi permasalahan adalah perasaan yang hadir ketika hubungan kembali di jalin, kedua belah pihak harus sangat hati-hati dengan perasaan masing-masing, jangan sampai jalinan cinta yang dijalin adalah rasa kasihan yang di terkamuflasekan dengan rasa cinta.
Menjalin hubungan kembali dengan mantan atau reunion, reunited, reinforcement..(eh itu buat perang kan…), atau bisa diartikan menjalin hubungan dari awal lagi, new start new begining, yang dinamakan new start berarti memulai segalnya baru, fresh, tanpa dibayang-bayangin masa lalu, ataupun kesalahan-kesalahan yang lalu, sama halnya seperti sepasang pecinta yang baru menjalin hubungan, cuma ini bedanya sudah saling mengetahui satu sama lain. Jika begitu halnya, maka yang dinamakan balikan sama mantan menjadi sama indahnya dengan menjalin cinta baru dengan orang yang baru, lebih indah malah.
Tapi beda lagi jika reunion itu dalam perjalanannya masih dibayang-bayangi oleh kenangan masa lalu, kesalahan-kesalahan masa lalu, atau the worse case, disadari atau tidak, setiap ada kesempatan maka pembalasan dendam itu di lakukan.
“Kamu dulu pernah melakukan itu, kenapa sekarang aku tidak boleh?”,
“Mungkin aku dulu pernah menyakiti kamu, dan aku berhak mendapatkan hukuman ini”,
lihatlah betapa menyedihkan jika dalam sebuah reunited timbul pemikiran seperti itu, dan yang perlu dipertanyakan adalah kemanakah hubungan itu akan di bawa, lha wong dalam perjalanan awalnya aja sudah sangat sulit lepas dari bayang-bayang masa lalu. Di manakah the new beginning itu? Dan saya kira itu adalah sebuah kemunduran. Bandingkan dengan ini,
“Kamu dulu pernah melakukan kesalahan itu, berarti sekarang aku tidak boleh melakukan hal itu, karena itu menyakitiku, pasti juga menyakiti kamu”,
“Mungkin aku dulu pernah menyakiti dia, tapi sekarang aku tau kesalahanku, dan tidak akan kulakukan lagi”
lebih menjajikan bukan? Dan saya yakin dengan pasangan yang berfikir seperti itu pasti akan lebih mudah menghadapi gejolak-gejolak yang mungkin datang, karena sudah pasti mereka siap menghadapinya, dengan kedewasaan berfikir dan bersikap.
Sebuah hubungan harusnya, idealnya adalah dua arah, saling memberi dan menerima, meskipun mungkin ada salah satu pihak yang berhati emas dan tulus, hanya ingin memberi, tapi saya yakin, dalam lubuk hatinya pasti ada harapan apapun yang dia lakukan akan menghasilkan sesuatu, kita manusia, apapun yang kita lakukan pasti kita mengharapkan hasil, meskipun toh hasil itu tidak secara langsung berpengaruh pada kita, mungkin berharap pasangannya bahagia, meskipun berulangkali dia menyakiti, itu juga harapan…dalam taraf paling sederhana, atau bisa dikatakan dalam taraf keputusasaan terparah.
Kembali menjalin hubungan dengan mantan sering kali masing-masing terjebak dengan harapan ingin melihat pasangannya seperti dulu, seperti masa-masa sebelum perpisahan, tapi kenyataan mengatakan bahwa segala sesuatunya berubah, terutama manusia, karena kembali menjalin hubungan adalah perubahan itu sendiri, entah perubahan itu menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk, jadi ketika melihat pasangan berubah, kekecewaan demi kekecewaan harus ditelan, ditambah lagi dengan sindrom masa lalu yang tidak bisa dilepaskan, “pembalasan” demi “pembalasan” dilakukan. Terus kalau hubungan sudah sepert itu, layakkah dipertahankan??
Jika pasangan yang diharapkan berulangkali melakukan kesalahan, berulangkali menyakiti, dan berulangkali meminta maaf, tapi berulangkali mengulangi kesalahan yang sama, mungkin perlu dipertanyakan seberapa serius dia menjalin hubungan kembali…karena seharusnya perubahan itu ada dalam sebuah hubungan baru…
Apapun alasan dan pemikiran masing-masing untuk mempertahankan hubungan yang seperti itu, tapi yang jelas cinta itu tidak buta, tidak bodoh dan bukan juga nafsu…