Feed on
Posts
Comments

Masa-masa berpacaran sudah pasti diselingin sama yang namanya tengkar, debat, dan yang paling parah adalah keputusan untuk berpisah. Tapi bagaimana pula jika kita kembali lagi menjalin hubungan cinta dengan kekasih yang dulu, yang sempat bertengkar, saling menyakiti sehingga pada suatu keputusan untuk berpisah. Haruskah di sebut sebagai penjilat ludah sendiri??

Saya kira tidak, tidak pernah ada yang salah dengan kembali dengan mantan pacar dulu, sama halnya dengan tidak ada yang salah dengan cinta, sedikit-dikitnya tidak ada yang salah, tapi kadang mungkin cinta hadir di tempat dan waktu yang salah, bukan cintanya yang salah.

Kembali menjalin hubungan dengan mantan memang indah (menurut beberapa orang), tapi juga kadang menyakitkan (menurut beberapa orang juga), tapi yang sering menjadi permasalahan adalah perasaan yang hadir ketika hubungan kembali di jalin, kedua belah pihak harus sangat hati-hati dengan perasaan masing-masing, jangan sampai jalinan cinta yang dijalin adalah rasa kasihan yang di terkamuflasekan dengan rasa cinta.

Menjalin hubungan kembali dengan mantan atau reunion, reunited, reinforcement..(eh itu buat perang kan…), atau bisa diartikan menjalin hubungan dari awal lagi, new start new begining, yang dinamakan new start berarti memulai segalnya baru, fresh, tanpa dibayang-bayangin masa lalu, ataupun kesalahan-kesalahan yang lalu, sama halnya seperti sepasang pecinta yang baru menjalin hubungan, cuma ini bedanya sudah saling mengetahui satu sama lain. Jika begitu halnya, maka yang dinamakan balikan sama mantan menjadi sama indahnya dengan menjalin cinta baru dengan orang yang baru, lebih indah malah.

Tapi beda lagi jika reunion itu dalam perjalanannya masih dibayang-bayangi oleh kenangan masa lalu, kesalahan-kesalahan masa lalu, atau the worse case, disadari atau tidak, setiap ada kesempatan maka pembalasan dendam itu di lakukan.

“Kamu dulu pernah melakukan itu, kenapa sekarang aku tidak boleh?”,

“Mungkin aku dulu pernah menyakiti kamu, dan aku berhak mendapatkan hukuman ini”,

lihatlah betapa menyedihkan jika dalam sebuah reunited timbul pemikiran seperti itu, dan yang perlu dipertanyakan adalah kemanakah hubungan itu akan di bawa, lha wong dalam perjalanan awalnya aja sudah sangat sulit lepas dari bayang-bayang masa lalu. Di manakah the new beginning itu? Dan saya kira itu adalah sebuah kemunduran. Bandingkan dengan ini,

“Kamu dulu pernah melakukan kesalahan itu, berarti sekarang aku tidak boleh melakukan hal itu, karena itu menyakitiku, pasti juga menyakiti kamu”,

“Mungkin aku dulu pernah menyakiti dia, tapi sekarang aku tau kesalahanku, dan tidak akan kulakukan lagi”

lebih menjajikan bukan? Dan saya yakin dengan pasangan yang berfikir seperti itu pasti akan lebih mudah menghadapi gejolak-gejolak yang mungkin datang, karena sudah pasti mereka siap menghadapinya, dengan kedewasaan berfikir dan bersikap.

Sebuah hubungan harusnya, idealnya adalah dua arah, saling memberi dan menerima, meskipun mungkin ada salah satu pihak yang berhati emas dan tulus, hanya ingin memberi, tapi saya yakin, dalam lubuk hatinya pasti ada harapan apapun yang dia lakukan akan menghasilkan sesuatu, kita manusia, apapun yang kita lakukan pasti kita mengharapkan hasil, meskipun toh hasil itu tidak secara langsung berpengaruh pada kita, mungkin berharap pasangannya bahagia, meskipun berulangkali dia menyakiti, itu juga harapan…dalam taraf paling sederhana, atau bisa dikatakan dalam taraf keputusasaan terparah.

Kembali menjalin hubungan dengan mantan sering kali masing-masing terjebak dengan harapan ingin melihat pasangannya seperti dulu, seperti masa-masa sebelum perpisahan, tapi kenyataan mengatakan bahwa segala sesuatunya berubah, terutama manusia, karena kembali menjalin hubungan adalah perubahan itu sendiri, entah perubahan itu menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk, jadi ketika melihat pasangan berubah, kekecewaan demi kekecewaan harus ditelan, ditambah lagi dengan sindrom masa lalu yang tidak bisa dilepaskan, “pembalasan” demi “pembalasan” dilakukan. Terus kalau hubungan sudah sepert itu, layakkah dipertahankan??

Jika pasangan yang diharapkan berulangkali melakukan kesalahan, berulangkali menyakiti, dan berulangkali meminta maaf, tapi berulangkali mengulangi kesalahan yang sama, mungkin perlu dipertanyakan seberapa serius dia menjalin hubungan kembali…karena seharusnya perubahan itu ada dalam sebuah hubungan baru…

Apapun alasan dan pemikiran masing-masing untuk mempertahankan hubungan yang seperti itu, tapi yang jelas cinta itu tidak buta, tidak bodoh dan bukan juga nafsu…

hari ini

Hari ini temanya “Maleeessss”

Males buat ngapa-ngapain, males buat nulis males buat online, males buat kerja, males buat chating…..
Terkadang saat malas apa yang anda lakukan? Diam? Tidur? atau malah cuman bengong?

Saya lebih seneng muter-muter, jalan-jalan melihat suasana baru, dari sana saya tahu bahwa di saat saya malas, banyak orang yang bekerja dengan pengorbanan yang luar biasa, meskipun hasil yang di dapat tak seberapa (menurut saya..)

Tapi apapun itu, apapun pesan yang saya dapat, saya masih tetap malesssss….

Ya biarlah…biar hari ini menjadi hari malas sedunia buat saya….owkeowkeowekowkeo….

“Pernah suatu kali ada teman ku curhat, cowo, dia curhat bahwa dia suka dengan seorang cewe, sebut saja Yanti”, aku memulai cerita ku malam itu kepada seseorang di ujung sana melalui telepon.

“Cowo ini, sebut saja namanya Dian, begitu cinta dan sayang dengan Yanti, meskipun pada waktu itu Yanti sudah pacar. Kedua-duanya adalah temanku, kedua-duanya pula sama-sama curhat kepadaku, jadi bisa di bilang aku tau semua kisah mereka, cinta bertepuk sebelah tangannya Dian, dan kisah cintanya Yanti dengan pacarnya.”

“Hingga suatu ketika, Yanti putus cinta, kisah putus cinta dan tangisnya juga di bagi denganku. Dian yang mendengar cerita ini begitu senang, dia bilang, bahwa dia akan mengejar Yanti dan mendapatkan cintanya, aku hanya bisa bilang untuk menahan keinginannya, setidaknya beri dia waktu satu tahun, tapi Dian tidak perduli dan tidak mengindahkan saranku.”

“Akhirnya Yanti dan Dian jadian, tapi tidak bertahan lama, selang beberapa bulan, cowo Yanti yang terakhir minta untuk balikan, dan akhirnya Yanti memutuskan Dian, dan kembali ke cowo terakhirnya.”

Tiba-tiba kamu memotong ceritaku,

“Kamu ga takut kalo aku seperti itu?”

“Gak”,  jawabku singkat.

“Kalau kamu memang seperti Yanti seperti dalam cerita ku itu, ya berarti kamu ga benar-benar sayang sama aku”, jawabku lebih jauh

“Terus, kalo semisal aku seperti itu, gimana?”

“Itu pilihanmu, pilihan sikapmu, pilihan yang muncul karena cara berfikirmu, aku ga bisa berbuat banyak, selain mempertahankan, menyayangimu dengan sepenuhnya, bukan sebagian dari ku, dan kalaupun kamu begitu, aku akan tetap sama seperti saat ini, seperti saat malam ini aku mengatakan ini. Tapi, kenapa kamu ngomong gitu? Memang kamu seperti itu?”

“Enggak”, jawabmu mengambang.

Malam itu berlalu setahun kemudian, malam itu hampir terlupakan. Tapi kenyataan dan perjalanan hidup mengatakan lain. Semua ceritaku, semua kisah kedua temanku, aku alami.

Kamu pergi dan memutuskan semua yang kuperjuangkan agar kau bahagia, semua yang kupertaruhkan bahkan dengan nyawaku sendiri, kau buang tanpa ada penjelasan yang gamblang, mengambang, seperti jawabanmu malam itu yang mengambang.

Bukan keputusanmu untuk mengakhiri semua yang membuatku pedih perih, tapi lelaki yang kamu harapkan dapat memberikan kebahagiaan denganmu ternyata jauh lebih melukaimu, jauh lebih menyakitkan. Teriris hati ini, melihat orang yang benar-benar aku sayangi, begitu rapuh, dan di sakiti orang lain. Hatimu yang kujaga, bahkan dengan nyawaku, kau berikan dengan percuma kepada orang lain hanya untuk di sakiti…

Sekarang di sinilah aku, menjagamu dalam diamku, mengawasimu dalam kebutaanku…tapi cukuplah itu, apapun itu, aku tak akan pernah rela bila kamu merasakan sakit hati lagi…

Bagaimana jika setiap yang kita angankan menjadi kenyataan? Setiap kekawatiran kita akan sesuatu menjadi nyata…menyakitkan tentunya, menakutkan, mungkin malah bingung mesti ngapain.

Terutama jika kekawatiran kita akan orang yang kita sayang, menjadi kenyataan.

Pernahkan merasakan mencintai seseorang tanpa bisa melindunginya? Tanpa bisa memberikan semua perhatian dan perasaan sayang kita kepadanya? Saya merasakan itu. Saya mencintai seseorang, sangat menyayanginya, tapi perjalanan hidup mengharuskan saya hanya bisa melindungi dengan cara lain, mencintainya dengan cara yang berbeda dan memberi perhatian kepadanya dengan cara diam.

Tanpa bisa saya tolak dan saya hindari, saya selalu tahu keadaan dan kabar dia, setiap itu pula saya mempunyai kekawatiran yang akan terjadi, kekawatiran tentang kesedihannya, tentang air matanya, tentang hatinya yang teriris, tentang sakitnya, tentang semuanya. Dan saya tidak berdaya jika semua kekawatiran saya itu menjadi kenyataan tanpa saya sempat memperingatkan dia.

Sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa dia begitu membenci saya, bahkan saya tidak pernah tahu kesalahan saya di mana. Mungkin saya yang terlalu mencintai dan menyayanginya adalah salah di matanya, yang terlalu takut kehilangannya adalah pengekang bagi kehidupannya.

Jadi di sinilah saya sekarang, hanya bisa ikut teriris dan bersedih jika semua yang saya kawatirkan, terjadi. Semua yang saya jaga, air matanya agar tidak mengalir, hatinya agar tidak teriris, kesedihan yang berusaha saya jauhkan, terjadi begitu saja di depan mata saya tanpa saya bisa memeluk dan menjaga hatinya, memberikan penghiburan dan sekedar penyeka air mata.

Sekarang, saya begitu takut memikirkan semua kekawatiran tentang dia, takut semua itu bahkan akan semakin melukai hidupnya. Mungkin mencintaimu mengharuskan saya mesti menghilang dan tidak pernah hadir dalam hidupmu lagi, mungkin dengan cara itu, kamu bisa melupakan saya dan melanjutkan pencarian bahagiamu yang sempat terkoyak karena penghianatan lelaki, yang berusaha aku balut, tapi semua balutanku kau buka dan kau paparkan di udara terbuka…hingga tercecerlah darah kepedihan itu…

kekal kisah hari

ketika kuingat dirimu
di serpihan waktu yang berdebu
ku tahu jiwaku membiru
karena rindu

ketika kubuka lembaran kisah cerita
yang berdebu dilupakan masa
ku tahu ku masih punya asa
tuk selalu bersama

ketika ku melangkah meniti hari
entah kenapa kutak melihat mentari
dihati maupun di hari-hari
dimanakah jiwamu berada kini..
ataukah sudah kau tak peduli..

kini ku di sini,
melewati hari-hari,
menyisihkan sepi-sepi,
menunggu sesuatu, yang aku tahu bisa sangat tak pasti…

tapi biarlah, biarku bersahabat dengan kering hari,
sepi hati,
bahkan dengan saat jiwaku pergi,
terhapus waktu, terpilin kekalnya kematian…sendiri…

3 Lagu

Membuka lagi folder lama, sebenarnya bukan folder lama, tapi folder yang jarang saya perhatikan isinya secara detail, meskipun sering saya pergunakan dan sering saya “explore”

Terpaku saya menemukan 3 buah file MP3, Udara-Esok Takkan Lagi, Udara-Seperti Aku, Udara-Untukmu, beberapa saat lamanya saya mengingat-ingat, dari mana asal 3 file MP3 ini, kenapa bisa berada di folder My Documents, karena biasanya saya menaruh file-file musik di satu folder khusus.

Mengorek ingatan, mengorek masa lalu, mengorek kenangan masa lalu, kenangan yang lebih banyak kenangan manis dari pada sakit….

File-file yang dikirim kepada saya, karena seorang wanita mengungkapkan perasaan hatinya. Sungguh cara yang dulu sempat membuat saya berdebar-debar gila…rasa yang aneh, ada seorang wanita yang memperlakukan saya dengan begitu istimewa.

Neng, dengan siapapun dirimu sekarang, aku turut berbahagia untukmu, lupakan aku, seseorang yang tidak pernah bisa mencintai dirimu dengan hati, hiduplah di sana, dengan orang yang kamu cintai dan bisa mencintaimu dengan sepenuh-penuhnya. Bangunlah sekat-sekat jarak dan waktu diantara kita agar semakin tebal, agar tidak membuka luka yang sudah aku timbulkan di dirimu, entah di mana luka itu….

Ah…sudah lah, izinkan ingatanmu tentang dirimu kubawa-bawa kemanapun aku pergi. Biarkan aku mengingatmu dengan sekulum senyum, walau kini dirimu berbagi tangis dan tawa dengan orang yang berbeda.

Udara-Untukmu

Disaat kutersesat, tanpa arah tujuan..
kau genggam tangan dan tuntun aku untuk melangkah,
disaat aku sedih, dengan luka di hati,
kau datang membuat hariku jadi berpelangi

mungkin hanya dirimu,
yang dapat mengerti perasaan ini,
mungkin hanya dirimu,
yang dapat membuat cinta hadir kembali…

Kau bukan yang pertama,
namun cinta yang kurasa, lebih dari yang pernah ada…

NB. Neng, sekarang aku ngerti, kenapa dulu kamu menangis…maaf…tak kusangka baru sekarang aku bisa mengerti semua keperihanmu, maafkan aku. Tapi biarpun aku tidak pernah mengerti dan tidak pernah mau mengerti perasaanmu, tapi kamu tetaplah kamu, kita tetaplah kita, biarkan kisah kita menjadi pelajaran dan tumbuh kembang hati dan kedewasaan kita…

Udara-Esok Takkan Lagi

Saat kisah terjalin, hari trasa berarti
rindupun hadir warnai hari,
perpisahanpun tiba, koyakkan semua mimpi,

Selamat jalan kekasih, semoga saja
engkau bahagia, menjalani hari-hari,
aku kan di sini, bersama cinta ini,
walau hari kan sepi, dan rindu akan lukai…hati

genggam tanganku, dekap erat tubuhku,
karena mungkin esok tak kan lagi,
walau itu tak mungkin membuatmu kembali,

Hapus air matamu dan jangan lagi,
engkau tangisi segala yang telah terjadi,
aku kan di sini bersama cinta ini,
walau hari kan sepi, dan rindu akan lukai…hati

yang ini di kirim ketika dia membiarkan saya pergi…..

Wanita dari masa lalu

Dari sekian banyak malam ku sendiri sambil ngopi dan rokok yang selalu setia menemani, entah kenapa malam itu semua kilas masa lalu kembali bermunculan, bagaikan slide-slide film tua. Kisah-kisah dari semua wanita yang pernah singgah di perjalanan hidupku dan yang telah berlalu.

Kisah cintaku di awali di kelas 5 SD, (hueeh…!!!??) yeah…kelas 5 SD, di saat kita masih harus belajar demi nilai dan tidak memikirkan hal lain, aku sudah ada rasa suka dengan seorang wanita, sebut saja namanya Yuli, dia adik kelasku, kami sering melakukan kegiatan bersama, entah itu Pramuka, extra kurikuler renang, dan team upacara bendera, banyak hal, tapi kala itu rasa suka tinggallah rasa suka, aku tak pernah bisa menyatakkan nya secara langsung, dan itu berlangsung setahun lamanya, hingga aku kelas 6 SD. Hingga suatu saat, di pertengahan tahun kelas 6 SD aku menulis sebuah surat untuk dia, tidak aku kirimkan, tapi hanya aku selipkan di mejaku, di antara sela papan kayu (hingga saat ini kadang ketidak beranianku itu masih terus muncul, hanya berani menulis tanpa berani menunjukkan untuk siapa tulisanku itu),  tapi ternyata nasib mengatakan lain, suratku ditemukan oleh temanku, dan singkat cerita seluruh sekolah tahu akan suratku (asli…duwh saat itu jadi malu banget, entah malu karena apa, padahal memiliki rasa suka adalah anugerah, bukan untuk dibuat menjadi malu), hingga orang tuaku tau, guru-guru tahu, dia tahu. Tapi dari situ, kita malah semakin dekat, hingga SMP, tapi semua tiba2 menjadi hilang ketika aku masuk SMA, ya…mungkin itu lah yang di namakan cinta monyet….

Masa-masa SMA memang paling indah, paling indah pada akhir-akhir kelas 3 SMA, sebut saja wanita ini bernama Prita, seorang yang anggun, yang kebetulan juga satu SMA denganku, dan kebetulan juga kakak wanitanya satu kelas denganku, sebut saja Pipit, hubungan ku dengan dia bisa di bilang baik-baik saja, mulai masa pendekatan hingga jalan, biarpun belum kesampaian untuk bilang sayang (baca: nembak). Hubungan dengan keluarga di bilang sangat dekat, dengan orang tua Prita terutama, mereka sangat baik padaku dan sangat peduli (bahkan hingga saat ini, seperti sudah di anggap anak sendiri, bahkan ketika Prita sudah menikah). Tapi masalah mulai muncul ketika Pipit putus dengan pacarnya, dia mulai hadir (hampir) di setiap saat waktuku dengan Prita, yang belakangan aku ketahuai, ternyata dia mengetahui bahwa dulu aku pernah suka sama dia, tapi entah kenapa tiba-tiba rasa itu hilang…dan akhirnya ketika aku memasuki masa-masa kuliah, semua harus berakhir dengan indah, ya lebih baik begitu…sungguh rumit, antara Prita yang kusuka, dan Pipit seorang teman dekat…

Beberapa wanita yang pernah hadir di hidupku, ketika aku menjalani masa kuliah, kesemuanya berakhir dengan tragis (baca: di khianatin), entah kenapa semua cerita cintaku di masa lalu selalu berakhir dengan di khianatin, apa aku terlalu polos? terlalu tidak berprasangka? atau terlalu bodoh?? ah entah lah…aku juga kadang bingung memikirkannya….

Wanita ke tiga yang hadir di hidupku, sebut saja dia Wati, yah, kadang bingung mengungkapkan jg, sebenernya kisak ku dan dia dulu itu di sebut apa…putus nyambung, dia pindah ke lain hati, putus lagi, nyambung lagi….ah….setiap dia putus dengan cowok lain, yang di cari pertama kali adalah aku, dan akhirnya bisa di tebak, kita jalan lagi. Ada yang bilang, aku cuman tempat sampah dan tempat pelampiasan, waktu itu sempet jg terfikir, tapi masa bodohlah kata orang. Setelah lulus dari Poltek, tiba-tiba dia menghilang, tidak bisa dihubungin (secara jaman dulu HP adalah barang mahal, dan aku masih kuliah…masih kere, biarpun sekarang juga gitu, tapi minimal punya HP :p~), hingga aku meneruskan kuliah di S1 sambil bekerja di Gramedia. Tiba-tiba dia muncul di Gramedia, di saat aku sedang di frontoffice, dari saat itu kontak mulai terjadi, dan akhirnya kenyataan itu terkuak, dia sudah menikah dan punya anak 1….ah…entah perasaan apa yang ada saat itu.

Wanita ke empat yang hadir di hidupku juga punya kisah yang hampir sama dengan Wati, tapi ini mungkin lebih “beradab”, dia meninggalkan aku, setelah perjuangan dan pengorbanan kita berdua, untuk mengikuti kemauan orang tua, di jodohkan….

Dan wanita ke 5….rasanya masih belum pantas di ceritakan di sini, karena dia bukan masa lalu, bahkan kisahnya masih berjalan hingga saat ini…dan semoga tetap berjalan hingga hembusan terakhir nafasku…

midnight sms

Lagi nyetir sendiri di jalan favorit, Cipaganti Bandung, melihat gemerlap dan temaran malam, dua sisi yang berjalan sejajar dengan harmonis, memunculkan sensasi yang menentramkan, sambil menghirup batang rokok perusak paru, Marlboro Merah.

“Tung…Teng…Tung…Tuuuuiiiinnngggg”
Climb message allert Sony Ereksi..eh Sony Erricsson W960i berbunyi

New message from xxxx View Now?

Yes

“Dia itu hati ma kelakuannya skr sudah ga peduli lagi ma gue, gue sering ga di hargain, sering banget gue ngerasa ga dianggep, pernah selingkuh jg dia!! Kenapa sampe sekarang gue tetep ngarepin dia??”

Reply

“ehem…muka ganteng?”

Send

New message from xxxx View Now?

Yes

“Biasa aja, gue ga liat dari fisik”

Reply

“ehm…kaya mungkin?  secara dia lagi bangun rumah kan”

Send

New message from xxxx View Now?

Yes

“Biasa aja, KENAPA DONG???!!!”

Reply

Back button

eh…buka pesan sms lagi

Reply

“Ya mungkin dia soulmate  lo. Yang lo liat di dia itu ada di diri lo semua. Ya! mungkin secara fisik lo ma dia mirip, cewe bilang cowo lo ganteng, cowo bilang lo cantik, hati+kelakuan lo kek dia, sama-sama ga menghargai pacar dan tukang selingkuh. Emang dia yang selama ini lo cari.”

Send

New message from xxxx View Now?

Yes

“TAI LOOOOOOOO!!! BEJE KAMBENG!!!”

Loh kok marah?! Tapi dia emang bener kok, gue emang kek tai, makanya jangan suka (atau lagi benci) orang yang kaya tai!!!

curhatan

Cinta tidak pernah salah, tapi kadang curhatnya yang salah, curhat tetang percintaan selalu sama dan berulang-ulang hanya nama pelaku dan korban nya saja yang berbeda-beda

Saya bukan pakar romansa, bukan juga pujangga romantis sedikit sadis, bukan juga lulusan psikiater perguruan tinggi ternama, atau ahli psikologi hati terluka, tapi saya cukup sering “disampahi” oleh cerita-cerita tentang cinta dan permasalahan sekitarnya

Tipe curhat dibawah tidak selalu benar, malah kadang mengacaukan dan membuat bubar, tapi jg tidak sepenuhnya salah, bahkan mungkin absolut kebenarannya…

1.  “Kenapa di setiap apapun yang gw lihat, gw selalu inget sama dia?’

Curhat ini sering terlontar ketika gundah rajin menyapa, pas bimbang berkelana, atau saat buru-buru pakai celana. Tiba-tiba saja kepulan asap rokok membentuk wajahnya, bahkan pup ayam melukiskan huruf namanya!
Namun pertanda magis ini selalu menghilang secara misterius seiring dengan berakhirnya resah gelisah. Padahal pup ayam itu masih pada tempatnya. Kalo mau sedikit ngebuang gengsi, mungkin curhat ini seharusnya menjadi: ”Kenapa yang gue ingat terus selalu terlihat pada semua yang tampak?“

2. “Gw ga pengen jadi orang yang nyusahin orang lain, terutama pacar, tapi kenapa dia tidak kasih gw kesempatan buat mandiri”

Gak usah urusan pacaran kali ya, gue rasa hidup itu sendiri hakekatnya adalah saling “nyusahin” satu sama lain; dalam arti saling membutuhkan.
Misalnya aja, gue sempet mikir dengan hidup nge-kos di Jakarta, gue akan dengan bangga bisa memproklamirkan diri sebagai orang yang mandiri. Mungkin iya, gue gak terlalu menyusahkan orang tua lagi, tapi jadinya nyusahin teman, gebetan, dan tetangga….; terutama pas meriang panas dingin-siang malam. Seni “nyusahin” ini akan terus berlanjut—ter-forward ke “objek tokoh pengganti”.
Bahkan saat kita ditemukan tanpa nyawa pun, bakal ada mereka yang bekerja keras untuk memandikan dan menguburkan. Hiii jadi seram.
Balik lagi ke soal pacar, ada kalanya kita justru merasa berharga ketika “disusahkan”, bukan? :)

3. “Kenapa ini bisa terjadi, buat dosa apa gw” atau kadang seperti ini “Kenapa ini bisa terjadi, dosa apa nenek moyang gw”

BANYAK KALI!!!!
Kenapa saat tersakiti, kita langsung merasa menjadi orang paling suci yang teraniaya? Seandainya pun kita memang seorang perawan berhati malaikat, toh menelepon teman (yang sudah lama tidak disapa) pukul 3 pagi buat meledak-ledak curhat, adalah sebuah kesalahan!

4. “Dia bakal lebih baik hidupnya tanpa gw” atau “Dia akan lebih bahagia tanpa ada gw di sisinya”

Ah, yakiiin? Curhat ini biasanya terjadi ketika ingin dimengerti harus berakhir dengan sakit hati. Atau saat ingin didengar sering berakhir hinaan kasar .
Karena biasanya ketika si pacar akhirnya benar-benar pergi meninggalkan kita, yang ada malah curhat seperti di point 3
Buat apa belagak pahlawan kalo malah nambah korban….

5. “Gw ga ada masa depan ma dia” atau “Gw ga liat ada jalan yang cerah sama dia”

Kenapa mendadak menjadi pesaing Mama Loren kalo yang ingin kita bilang sebenarnya adalah, “Gue gak mau lagi ngelanjutin hidup gue sama dia…”

6. “Di mana-mana dia selalu ada yang mengelilingi, entah itu di kantor/kampus, di jalan atau di manapun, selalu ada cowo/cewe cakep di sekitarnya”

Justru mestinya kita mesti lebih waspada kalo dia dikelilingin singa atau ular berbisa.
Karena di sinilah dia bakal bener-bener teruji, karena seseorang belum pantas dilabeli setia kalo belum pernah ketemu kesempatan untuk berselingkuh.
Resikonya memang besar, tapi kalo sampai berakhir seperti yang kita takutin, toh rasa sakitnya (semoga) bakal ngebentuk semacem piranti antiemosi baru yang bakal bikin jiwa lebih kuat lagi. Amin! Karena gue sering mengalami, ada berhektar-hektar kekuatan baru di setiap inci rasa sakit hati.
Selain itu, kalau kamu merasa yang mengelilingi si dia itu cakep, berarti kamu sedikit banyak merasa minder dan tidak percaya bahwa si dia mencintai kamu yang buruk rupa….

7. “gw ga tau lagi apa yang mesti gw lakukan, semua tiba-tiba buntu dan gelap”

Aah ayooolah, kita “tau” apa yang harus dilakukan Presiden agar Indonesia keluar dari kemelut kemiskinan, kita fasih ngomongin berbagai konspirasi tingkat tinggi negeri ini, kita mendadak menjadi politikus dengan memberikan berbagai solusi para partai untuk berkoalisi, tapi selalu buntu kalo nyangkut urusan cinta—yang kadang cuman masalah kenapa dia gak ngangkat nelepon seharian…

Mungkin yang sebenernya terjadi adalah, “Gue gak mau ngelakuin apa yang seharusnya gue perbuat…”

8. “Kenapa dia ga secakep kek dulu pertama kita ketemu ya”

Tunggu- tunggu! Jangan dulu nge-judge “Cuma mentingin fisik doang, sih, lo!” Karena mungkin si pelaku curhat ini juga gak peduli—karena memang iya :).

Bisa jadi kadar cakepnya sama saja, kok, dari dulu, cuman mungkin sekarang kita punya kenalan (calon gebetan) yang jauuuuh lebih cakep. Dan kadang “cakep”nya ini cuman ditandai oleh sedikit perbedaan ukuran bagian tubuh tertentu yang membuatnya tampak lebih atraktif. Hmmm, bajingan ya? Kenyataan kadang lebih serem daripada setan.
Jadi yang bener itu: “Kok ada yang lebih cakep dari dia, siiih?”
Dan kadang demi menutupi kebusukan, ada saja alasan palsu untuk meninggalkan pacar cakep buat yang lebih cakep—begitu seterusnya

9. “Sumpah, gw dah kepikiran ma dia lagi”

Curhat ini setara dengan ”Gue gak peduli apa kata orang!”

Karena sejujurnya, tepat ketika lidah mengucapkan gak pernah mikirin atau gak peduli, sebenernya persis saat itulah gue bener-bener mikirin dan peduli.
Persis kayak orang yang nyuruh,”Jangan bayangin gajah berbelalai delapan!” Jago, deh, kalo lo langsung bisa ngebayangin monyet bertetek sembilan misalnya….

Yaah…cinta boleh bikin kita buta, tapi bukan berarti bisa curhat semena-mena (plus membabi buta)

Beberapa hari ini telapak kaki saya yang kiri terasa sakit jika dipake berjalan, kesalahan posisi waktu tidur menyebabkan kaki saya jadi seperti ini, jari-jari kaki yang tertekuk semalaman.

Beberapa hari sakit kaki saya membuat saya berfikir banyak, sakit saya bisa di jadikan pelajaran tentang bagaimana kita mesti bersikap dalam menghadapi dan menjalani hidup ini.

Kaki kiri saya, pada satu posisi berjalan akan terasa sakit sekali, tapi jika di pakai berjalan pada posisi itu terus menerus, rasa sakit itu akan semakin lama semakin berkurang, sebenarnya ada posisi-posisi tertentu yang bisa saya pergunakan berjalan yang tidak menyebabkan sakit seperti di atas, tapi ketika saya mencoba berjalan secara normal lagi, rasa sakit yang timbul jauh lebih sakit dari pada rasa sakit seperti di atas, selain itu, jika saya berjalan pada posisi yang tidak menyebabkan kaki saya sakit, akan muncul sakit yang lain pada tungkai kaki dan jempol kaki.

Hidup ini menurut saya mirip dengan sakit kaki saya, ketika kita mengalami masalah yang menyebabkan kita sakit hati, duka ataupun pengalaman yang tidak mengenakkan, kita cenderung berjalan melaluinya dengan berjalan di jalur atau dengan cara menghindari rasa sakit itu, tidak dengan menghadapinya. Sama seperti saya, ketika kaki saya saya pergunakan untuk berjalan secara normal terasa sakit, saya cenderung menggunakan posisi-posisi tertentu yang tidak menyebabkan rasa sakit itu, meskipun itu menimbulkan rasa sakit di bagian kaki yang lain. Menghindari sakit hati dan berjala pada kondisi yang sekiranya tidak berhubungan dengan rasa sakit hati kita terkadang malah menimbulkan rasa sakit yang baru di sisi hati kita yang lain.

Berjalan secara “normal” memang terkadang menyakitkan, tapi itu lebih baik dari pada kita berjalan pada posisi yang tidak menyakitkan, tapi ketika kita mencoba berjalan dengan “normal” rasa sakit yang timbul jauh lebih menyakitkan. Menghadapi sakit hati memang sakit dan tidak mengenakkan, tapi semua harus di hadapi dan di lalui agar bisa sembuh.

Kadang keputusan yang kita buat membuat kita sakit hati, kadang merasa sia-sia, tapi kalo memang itu harus dilakukan dan itu keputusan yang sudah di ambil, maka kita harus menjalaninya dengan semua resiko yang menyertainya, sesakit apapun.

Jangan menghindari masalah ataupun sakit hati, hadapi dengan kepala tegak, rasakan rasa sakit itu, semua pengorbanan yang anda lakukan suatu saat pasti akan membuahkan hasil. Dari pada menghindari atau berpura-pura rasa sakit hati itu tidak ada, tapi malah menimbulkan rasa sakit yang lainnya.

Salah satu agar kita sembuh dari sakit hati adalah dengan merasakan rasa sakit hati itu terus menerus, sehingga hati kita akan semakin tawar dengan sakitnya, dan jangan dengan menghindarinya, akhirnya yang ada hanyalah rasa sayang dan cinta.

” if I love until it hurts, then there is no more hurt, only more love”

Older Posts »