Saya patah hati, ya, patah hati untuk yang ketiga kalinya. “Hah…tiga kali? Ga salah tuh? Bukannya kamu itu playboy?”. “Enak aja” tukas suara hatiku yang lain, “Mungkin saya memang punya banyak teman wanita, tapi itu semua hanya teman, tidak lebih, dan saya tau batasan antara teman dan pacar”
Ya, memang selama hampir delapan tahun saya sendiri, saya membuka banyak sekali akses pergaulan ke semua jenis teman, baik itu yang lawan jenis atau yang sesama jenis. Patah hati dari pacar yang ke dua cukup membuat saya sakit hati banget, maaf bagi kaum hawa, bukan saya menempatkan kaum hawa pada posisi yang jahat, tapi pada kenyataannya bahwa saya telah dihianati oleh wanita, dan saya adalah korban dari memberikan kepercayaan dan kebebasan kepada pacar. Tapi bukan berarti terus saya menjadi seorang diktator dan pengekang, tidak, itu bukan sifat saya. Selama hampir delapan tahun pertemanan dengan banyak orang itu lah saya semakin bisa mendewasakan hati dan cara berfikir dan menghadapi orang, terutama lawan jenis. Jujur saja, saya bukan orang yang sosialis, yang dapat berbaur dan berteman dengan gampang, saya juga bukan tipe-tipe orang yang menjadi pusat perhatian bila berada dalam sebuah keramaian. Bisa dikatakan bahwa nilai hubungan sosial saya adalah 4 dari skala 10.
Pada saat saya patah hati untuk yang kedua kalinya, saya berkata pada diri sendiri, bahwa hati ini akan tetap tertutup untuk siapapun sampai pada akhirnya ada yang mampu membuka hati ini, dan saya mengijikan nya masuk menempati hati saya.
Perkenalan itu bisa di bilang tidak disengaja, saya dikenalkan oleh seorang wanita, sebutlah dia M, dia adalah adik dari salah satu teman wanita saya di sebuah komunitas game online, sebut saja kakaknya B, pada awalnya saya memang hanya kenal B, chating dan ngobrol dengan B pun hanya sebatas teman bermain game, karena B sendiri sudah mempunyai pacar. Seperti layaknya pertemanan di dunia maya, tukar-menukar ID sebuah situs pertemanan, dari situ saya tahu M, karena M ada di friendlistnya B.
Beberapa kali memang saya me-view profile dari M, tapi saat itu saya tidak ada maksud dan pikiran apapun untuk mendekati, atau ingin mengenal M, just view, nothing else.
Seiring waktu, saya iseng bertanya kepada B,
Me : Mbak B, M itu sapa? Kenalin dong…
B : Kenapa mas, itu ade gw, kalau mau kenalan di add dulu jadi friendlistnya…
Saya add juga profile M menjadi FL saya, dan mengisi ruang testimoni sekedar say hello, saya juga tidak tahu awalnya bagaimana, tapi B memberi saya semua nomor HP dari M, dan itupun hanya saya simpan, tanpa ada niat untuk menghubungi atau mengenal lebih jauh. Saya sadar bahwa saat itu hati saya memang tertutup untuk siapapun, dan memang saya tidak pernah membuka akses untuk seorangpun memasuki hati saya, dan saya juga kadang tidak membuka akses untuk sekedar menjadi teman saya. Extreme memang, tapi begitu lah adanya.
Waktu berlalu, nomor HP tinggallah nomor HP, add menjadi friendlist, hanyalah sekedar add, tapi B tiap kali online dan bertemu dengan saya,
B : Mas dah telp M belum?
Me : Belum nih mbak, maklum sibuk
Sibuk main game maksudnya, sebenernya waktu luang saya sangat banyak, pulang kantor langsung ke game center hingga pagi, terus ngantor lagi, begitu terus tiap harinya, tapi karena memang hati saya sedang saya tutup rapat-rapat, jadi sekedar untuk menjadi temanpun menjadi sangat malas.
B: Mas dah telp M belum?
Me : Beluuuuuum…..no nya ilang mbak, kemarin lupa ga di save (alasan aja padahal ini)
Akhirnya oleh B dikirimlah V-card dari M, dan otomatis tersimpan di HP saya
B : Mas, dah telp M belum?
Me : belum mbak, lagi sibuk ini, ga ada waktu…
B : Ah, telp gitu aja ga berani, cemen ah….
Me : Iya, iya abis ini ntar telp, jam 9 an lah aku telp…
Akhirnya hari itu aku telp M, pertama berbincang memang canggung, dan waktu itu saya memang tidak pernah memikirkan kelanjutan dari telpon pertama kali ini. Semua saya lakukan karena saya menghargai seorang B, dan saya menepati apa yang saya ucapkan sebelumnya. Tapi dari pertama kali telpon, saya merasakan getaran lain terhadap M, tapi seperti biasa, saya tepis semua, saya injak tunas-tunas harapan itu sampai mati, seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya.
Waktu berlalu, saya tidak pernah mengontaknya lagi, telpon tidak, bahkan sekedar SMS pun saya tidak pernah. Hingga suatu ketika datang SMS dari M, “Mas, gimana kabarnya?”. “Baik neh, sori ga bisa sering-sering hubungin, lagi sibuk banget (alasan lagi padahal), gimana kabarnya M?”
SMS-SMS pendek memang tidak terlalu sering, tapi getaran-getaran di hati saya semakin nyata terasa, dan setiap kali terasa, saya langsung injak untuk mematikan dan menghindarinya, tapi sekali lagi, saya tidak bisa lagi mengelak, bahwa memang M telah berhasil membuka hati saya, biarpun itu hanya lewat beberapa kali SMS dan sekali telepon.
Komunitas game online saya suatu ketika mengadakan gathering di Bandung, di Lembang tepatnya, di situ pertama kali saya ketemu dengan B, dan pertama kali ketemu itu, B menghubungi M melalui telepon, dan di sambungkan dengan saya.
B: Mas ada yang mau ngomong neh?
Me : Sapa mbak? (pura-pura ga tau aja sebenernya saya, abis dah ga karu-karuan perasaan)
B : Udah terima aja.
Akhirnya saya terima telpon itu, dan seperti yang sudah saya duga, suara M di ujung sana terdengar, canggung, bingung, gugup, entah apa lagi yang saya rasakan saat itu, untung, save by bel, tiba-tiba jaringan teleponnya error, dan terputus, lega jg akhirnya, karena saya tidak ada bahan sama sekali untuk di obrolin
Seiring waktu, hubungan saya dengan M semakin intens, telepon semakin sering, meskipun belum pernah bertemu muka, dan seiring waktu juga, akhirnya kita berpacaran. Bolak-balik Malang-Bekasi semakin sering, selain juga pekerjaan yang menuntut seperti itu, tapi juga karena kangen dan rasa ingin ketemu mendorong semuanya.
Saya semakin yakin dan mantap dengan pacar saya yang ini, selain dia satu-satunya yang mampu membuka pintu hati saya yang saya kunci selama delapan tahun, juga karena saya merasa nyaman, teduh dan damai kala bersama atau ngobrol bersamanya. Jarak saya kira bukan masalah, karena kalau kita mau berusaha, sebenernya semua halangan jarak bisa di hilangkan.
Hingga suatu saat tiba-tiba dia memutuskan semua, tanpa tahu kesalahan saya, tanpa dia memberikan penjelasan, saya sudah berusaha semampu saya, menyayangi, mencintai, memberikan perhatian, setia, tapi semua memang sepertinya belum cukup bagi M. Hancur memang hati ini, hubungan yang saya harapkan bisa menjadi hubungan terakhir buat saya, seseorang yang mampu membuka hati saya, ternyata meninggalkan saya tanpa memberi tahu ada apa dengan semuanya. Sekali lagi saya patah hati, hati yang semula kosong dan terkunci, telah dia buka, dan dia isi, tapi pada akhirnya dia tinggalkan dalam keadaan terkunci dan terisi. Kalau sudah begini, bagaimana saya bisa membuka hati saya untuk yang lain? Semua hati dan harapan saya sudah saya berikan kepada M seorang.
Sebuah pelajaran yang dapat saya renungkan, tipe wanita yang baik adalah kejujuran dan kerendahan hati yang senyata-nyatanya. Senyata-nyatanya bukan karena ada maunya dan cuma sementara. Ada maunya karena berharap kita memilihnya. Meskipun untuk yang satu ini M bukanlah orang yang seperti itu, tapi ini juga merupakan salah satu kriteria wanita baik. Ini lah dua sifat ampuh yang harus ada pada dirinya, kejujuran dan kerendahan hati.
Tidaklah ada urusan dengan kekayaan, keturunan, jabatan, ketenaran, kecantikan, dan prilaku keyakinan keagamaannya, sekalipun. Sebab semua menjadi tak ada apa-apanya jika ternyata si dia adalah pembohong besar, sombong, congkak, tak tahu diri, dan munafik.
Jika kita mampu mendapatkan lebih dari dua kata kunci di atas, kenapa tidak? Namun yang jelas dua pokok kata kunci (kejujuran dan kerendahan hati) tipe wanita yang baik itu harus diutamakan, selanjutnya terserah kita mengusahakannya.
“Sayang, kapan kamu mau menikah denganku?”
Berbagi