Feed on
Posts
Comments

Love or Crime?

Have you even been in love?
Horrible, isn’t it?
It makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens your heart and it means someone can get inside you and mess you up.
You build up all these defenses. You build up this whole armor, for years, so nothing can hurt you, then one stupid person, no different from any other stupid person, wanders into your stupid life ….
You give them a piece of you. They don’t ask for it. They do something dumb one day like kiss you, or smile at you, and then your life isn’t your own anymore.
Love takes hostages. It gets inside you. It eats you out and leaves you crying in the darkness, so a simple phrase like maybe we should just be friends or how very perceptive turns into a glass splinter working its way into your heart. It hurts. Not just in the imagination; not just in the mind, it’s a soul-hurt, a body-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart pain.

You taught me how to love, you taught me how to live, you taught me how to laugh, you taught me how to cry, but when you left, you forgot to teach me how to forget you.
I hate love…..but no, no I don’t, but how can I love again when I can’t stop loving the one that hurt me so much?

arghhh….>,,<

memaafkan

Hanya cinta yang bisa , Menaklukkan dendam
Hanya kasih sayang tulus , Yang mampu menyentuh
Hanya cinta yang bisa , Mendamaikan benci
Hanya kasih sayang tulus Yang mampu menembus
Ruang dan waktu

( dari lagunya Agnes Monica )

Sebuah kejadian yang telah membuat saya berfikir dan mendapat sebuah pelajaran. Ketika kita mampu memaafkan dengan sepenuh hati dan cinta kasih maka kita akan terbebas dari penjara kebencian.

LOVE is…

Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.

Patah Hati ke 3

Saya patah hati, ya, patah hati untuk yang ketiga kalinya. “Hah…tiga kali? Ga salah tuh? Bukannya kamu itu playboy?”. “Enak aja” tukas suara hatiku yang lain, “Mungkin saya memang punya banyak teman wanita, tapi itu semua hanya teman, tidak lebih, dan saya tau batasan antara teman dan pacar”

Ya, memang selama hampir delapan tahun saya sendiri, saya membuka banyak sekali akses pergaulan ke semua jenis teman, baik itu yang lawan jenis atau yang sesama jenis. Patah hati dari pacar yang ke dua cukup membuat saya sakit hati banget, maaf bagi kaum hawa, bukan saya menempatkan kaum hawa pada posisi yang jahat, tapi pada kenyataannya bahwa saya telah dihianati oleh wanita, dan saya adalah korban dari memberikan kepercayaan dan kebebasan kepada pacar. Tapi bukan berarti terus saya menjadi seorang diktator dan pengekang, tidak, itu bukan sifat saya. Selama hampir delapan tahun pertemanan dengan banyak orang itu lah saya semakin bisa mendewasakan hati dan cara berfikir dan menghadapi orang, terutama lawan jenis. Jujur saja, saya bukan orang yang sosialis, yang dapat berbaur dan berteman dengan gampang, saya juga bukan tipe-tipe orang yang menjadi pusat perhatian bila berada dalam sebuah keramaian. Bisa dikatakan bahwa nilai hubungan sosial saya adalah 4 dari skala 10.

Pada saat saya patah hati untuk yang kedua kalinya, saya berkata pada diri sendiri, bahwa hati ini akan tetap tertutup untuk siapapun sampai pada akhirnya ada yang mampu membuka hati ini, dan saya mengijikan nya masuk menempati hati saya.

Perkenalan itu bisa di bilang tidak disengaja, saya dikenalkan oleh seorang wanita, sebutlah dia M, dia adalah adik dari salah satu teman wanita saya di sebuah komunitas game online, sebut saja kakaknya B, pada awalnya saya memang hanya kenal B, chating dan ngobrol dengan B pun hanya sebatas teman bermain game, karena B sendiri sudah mempunyai pacar. Seperti layaknya pertemanan di dunia maya, tukar-menukar ID sebuah situs pertemanan, dari situ saya tahu M, karena M ada di friendlistnya B.

Beberapa kali memang saya me-view profile dari M, tapi saat itu saya tidak ada maksud dan pikiran apapun untuk mendekati, atau ingin mengenal M, just view, nothing else.

Seiring waktu, saya iseng bertanya kepada B,

Me : Mbak B, M itu sapa? Kenalin dong…

B : Kenapa mas, itu ade gw, kalau mau kenalan di add dulu jadi friendlistnya…

Saya add juga profile M menjadi FL saya, dan mengisi ruang testimoni sekedar say hello, saya juga tidak tahu awalnya bagaimana, tapi B memberi saya semua nomor HP dari M, dan itupun hanya saya simpan, tanpa ada niat untuk menghubungi atau mengenal lebih jauh. Saya sadar bahwa saat itu hati saya memang tertutup untuk siapapun, dan memang saya tidak pernah membuka akses untuk seorangpun memasuki hati saya, dan saya juga kadang tidak membuka akses untuk sekedar menjadi teman saya. Extreme memang, tapi begitu lah adanya.

Waktu berlalu, nomor HP tinggallah nomor HP, add menjadi friendlist, hanyalah sekedar add, tapi B tiap kali online dan bertemu dengan saya,

B : Mas dah telp M belum?

Me : Belum nih mbak, maklum sibuk

Sibuk main game maksudnya, sebenernya waktu luang saya sangat banyak, pulang kantor langsung ke game center hingga pagi, terus ngantor lagi, begitu terus tiap harinya, tapi karena memang hati saya sedang saya tutup rapat-rapat, jadi sekedar untuk menjadi temanpun menjadi sangat malas.

B: Mas dah telp M belum?

Me : Beluuuuuum…..no nya ilang mbak, kemarin lupa ga di save (alasan aja padahal ini)

Akhirnya oleh B dikirimlah V-card dari M, dan otomatis tersimpan di HP saya

B : Mas, dah telp M belum?

Me : belum mbak, lagi sibuk ini, ga ada waktu…

B : Ah, telp gitu aja ga berani, cemen ah….

Me : Iya, iya abis ini ntar telp, jam 9 an lah aku telp…

Akhirnya hari itu aku telp M, pertama berbincang memang canggung, dan waktu itu saya memang tidak pernah memikirkan kelanjutan dari telpon pertama kali ini. Semua saya lakukan karena saya menghargai seorang B, dan saya menepati apa yang saya ucapkan sebelumnya. Tapi dari pertama kali telpon, saya merasakan getaran lain terhadap M, tapi seperti biasa, saya tepis semua, saya injak tunas-tunas harapan itu sampai mati, seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya.

Waktu berlalu, saya tidak pernah mengontaknya lagi, telpon tidak, bahkan sekedar SMS pun saya tidak pernah. Hingga suatu ketika datang SMS dari M, “Mas, gimana kabarnya?”. “Baik neh, sori ga bisa sering-sering hubungin, lagi sibuk banget (alasan lagi padahal), gimana kabarnya M?

SMS-SMS pendek memang tidak terlalu sering, tapi getaran-getaran di hati saya semakin nyata terasa, dan setiap kali terasa, saya langsung injak untuk mematikan dan menghindarinya, tapi sekali lagi, saya tidak bisa lagi mengelak, bahwa memang M telah berhasil membuka hati saya, biarpun itu hanya lewat beberapa kali SMS dan sekali telepon.

Komunitas game online saya suatu ketika mengadakan gathering di Bandung, di Lembang tepatnya, di situ pertama kali saya ketemu dengan B, dan pertama kali ketemu itu, B menghubungi M melalui telepon, dan di sambungkan dengan saya.

B: Mas ada yang mau ngomong neh?

Me : Sapa mbak? (pura-pura ga tau aja sebenernya saya, abis dah ga karu-karuan perasaan)

B : Udah terima aja.

Akhirnya saya terima telpon itu, dan seperti yang sudah saya duga, suara M di ujung sana terdengar, canggung, bingung, gugup, entah apa lagi yang saya rasakan saat itu, untung, save by bel, tiba-tiba jaringan teleponnya error, dan terputus, lega jg akhirnya, karena saya tidak ada bahan sama sekali untuk di obrolin

Seiring waktu, hubungan saya dengan M semakin intens, telepon semakin sering, meskipun belum pernah bertemu muka, dan seiring waktu juga, akhirnya kita berpacaran. Bolak-balik Malang-Bekasi semakin sering, selain juga pekerjaan yang menuntut seperti itu, tapi juga karena kangen dan rasa ingin ketemu mendorong semuanya.

Saya semakin yakin dan mantap dengan pacar saya yang ini, selain dia satu-satunya yang mampu membuka pintu hati saya yang saya kunci selama delapan tahun, juga karena saya merasa nyaman, teduh dan damai kala bersama atau ngobrol bersamanya. Jarak saya kira bukan masalah, karena kalau kita mau berusaha, sebenernya semua halangan jarak bisa di hilangkan.

Hingga suatu saat tiba-tiba dia memutuskan semua, tanpa tahu kesalahan saya, tanpa dia memberikan penjelasan, saya sudah berusaha semampu saya, menyayangi, mencintai, memberikan perhatian, setia, tapi semua memang sepertinya belum cukup bagi M. Hancur memang hati ini, hubungan yang saya harapkan bisa menjadi hubungan terakhir buat saya, seseorang yang mampu membuka hati saya, ternyata meninggalkan saya tanpa memberi tahu ada apa dengan semuanya. Sekali lagi saya patah hati, hati yang semula kosong dan terkunci, telah dia buka, dan dia isi, tapi pada akhirnya dia tinggalkan dalam keadaan terkunci dan terisi. Kalau sudah begini, bagaimana saya bisa membuka hati saya untuk yang lain? Semua hati dan harapan saya sudah saya berikan kepada M seorang.

Sebuah pelajaran yang dapat saya renungkan, tipe wanita yang baik adalah kejujuran dan kerendahan hati yang senyata-nyatanya. Senyata-nyatanya bukan karena ada maunya dan cuma sementara. Ada maunya karena berharap kita memilihnya. Meskipun untuk yang satu ini M bukanlah orang yang seperti itu, tapi ini juga merupakan salah satu kriteria wanita baik. Ini lah dua sifat ampuh yang harus ada pada dirinya, kejujuran dan kerendahan hati.

Tidaklah ada urusan dengan kekayaan, keturunan, jabatan, ketenaran, kecantikan, dan prilaku keyakinan keagamaannya, sekalipun. Sebab semua menjadi tak ada apa-apanya jika ternyata si dia adalah pembohong besar, sombong, congkak, tak tahu diri, dan munafik.

Jika kita mampu mendapatkan lebih dari dua kata kunci di atas, kenapa tidak? Namun yang jelas dua pokok kata kunci (kejujuran dan kerendahan hati) tipe wanita yang baik itu harus diutamakan, selanjutnya terserah kita mengusahakannya.

Sayang, kapan kamu mau menikah denganku?”

Kembali

Lama waktu berselang, dan selama itu pula blog ku ini terlupakan. Selain karena kesibukan kerja beberapa kepentingan yang mesti saya hadapi demi masa depan, salah satunya adalah pasangan hidup.

Sedikit kilas balik kehidupan saya, selama saya hidup dan menarik nafas di dunia ini, bisa dibilang bahwa saya adalah orang yang kurang pengalaman dalam hal berpacaran, hanya dua kali saya menjalani pacaran yang serius. Tragisnya kedua-duanya kandas karena orang ketiga. Bukan saya yang menduakan pasangan saya, tapi justru sebaliknya, pasangan saya yang menduakan saya.

Akhirnya saya putuskan untuk menyendiri selama 8 tahun lebih, merenungi apa yang salah dari diri saya, dan saya berjanji pada diri sendiri, sampai pada saatnya nanti saya ketemu dengan pasangan hidup saya yang mampu membuka dan mampu membuat saya merasa bahwa saya tidak sendiri, saya tidak akan membuka pintu hati saya.

Akhirnya seseorang itu datang, Imanur Isjmi, begitu nama dia, sebuah perkenalan yang terjadi karena kakak Mimi, itulah panggilan saya kepada dia, adalah teman saya, dan singkat cerita berkenalanlah kita. Pertama kali kita berbicara, sudah begitu terasa getaran di hati saya, saya sendiri juga bingung pada mulanya, karena perkenalan kita adalah perkenalan melalui media telepon.

Kemudian dari perkenalan itu, seiring waktu berjalan, hubungan kita berlanjut ke arah yang lebih serius, dan saya mulai berfikir, hendak di bawa ke mana hubungan kita ini. Saya mulai mempersiapkan segalanya, biarpun diantara kita belum ada sama sekali pembicaraan ke arah pernikahan, tapi saya bersikap optimis dan mempersiapkan segalanya. Saya sudah bukan pada posisi main-main dalam menjalin hubungan, dan saya sudah merasa yakin dan mantab dengan pilihan saya yang ini.

Tapi tak disangka, kejadian itu terjadi juga, tanpa alasan yang jelas dia tiba-tiba memutuskan semua hubungan diantara kita. Hati ini bertanya, ada apa? Apa salahku?. Berulangkali aku mencoba mencari penjelasan tentang semua, tapi yang kudapat hanya sikap menghindar. Saya coba merenungi semua dan mengumpulkan serpihan-serpihan pembicaraan diantara kita, pada akhirnya aku dapat menarik kesimpulan, bahwa kamu begitu trauma dengan masa lalumu, dengan semua mantan-mantanmu, yang kesemuanya menghianati dirimu dengan wanita lain.

Sebulan kita berpisah, sebulan itu juga beberapa pertimbangan dan pemikiranku teraselerasi karena keputusanmu, selama sebulan itu pula aku berfikir masak-masak dan mempertimbangkan segala resiko yang mesti aku hadapi dengan keputusanku.

Akhirnya, bulat sudah keputusanku, aku tidak mau main-main lagi dengan perasaan wanita, tidak mau lagi menarik omongan yang sudah aku ucapkan, dengan rendah hati dan semua ketululusanku aku mau katakan….

Mi, maukah kamu menjadi istriku, hingga akhir nafasku?

dirimu…

mengingatmu…
merenungkanmu…
merindukanmu…
tak terasa aku memujamu,
menyebut namamu di setiap tarikan nafas hidupku

membutuhkanmu,
merasakan kehadiranmu,
merdu suaramu,
tak terasa menjadi canduku,
menjadikanku bertahan di setiap luka hatiku…

selamat harimu…ibu…

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Sepenggal lagu dari Iwan Fals mengingatkanku pada sesosok orang tua yang aku sebut ibu. Tanggal 22 Desember yang kita tahu adalah hari ibu. Seperti hari-hari peringatan yang lain, hari Kemerdekaan, hari Lebaran Idul Fitri, Hari Kesaktian Pancasila, hari Pahlawan, harusnya hari Ibu bertanggal merah, tapi kenyataannya tidak. Ibu, ingat kah hari ini bahwa hari ini adalah hari untukmu? Bukankah di harimu ini, kau seharusnya beristirahat dari segala penat beban hidup yang telah kautanggung selama ini? Bukankan di harimu ini kau seharusnya mendapat perlakuan istimewa dari suami, anak atau sodara-sodara yang lain?

Tapi tidak, ibu tidak mengharapkan semua itu, yang aku tahu ibu mengharapkan anak-anaknya menjadi orang yang berhasil. Ibu juga tidak mengharapkan perlakuan istimewa di harinya ini, tidak juga mengharapkan perayaan besar-besaran. Tidak juga mengharapkan diadakan upacara ceremonial yang khusus untuk memperingatinya.

Menurutku, hari ibu bagi diriku pribadi adalah dimana hari itu kita merefleksikan diri, merenungkan diri, sudahkah kita berbakti ke ibu? Sudahkah kita memenuhi harapan ibu?

Meskipun di luar sana tidak sedikit oknum-oknum ibu yang menyimpang dari hukum, tapi seorang ibu tetaplah ibu, nurani ibu tidak akan pernah luntur oleh waktu dan perubahan jaman.

Ibu…selamat hari ibu, maafkan anakmu ini tidak pernah mengucapkan itu di harimu ini, tapi aku bersyukur mempunyai  ibu seperti engkau.

sore berhujan…

Suara keras karena gaya impuls dan gaya moment tumbukan dalam istilah Fisika membuat mobil sedan itu ringsek melesak ke belakang, menghimpit sang supir dan hampir menghimpit seluruh tubuh sang supir hingga remuk. Sebuah truk yang berjalan sedikit lambat berada di depan sedan tersebut, sedikit terlontar, yang kemudian kembali ke posisi semula seolah tidak terjadi apa-apa. Sang supir bahkan sempat tidak sadarkan diri selama beberapa saat, untung ada safety belt yang menahan badannya dari kehancuran yang lebih parah lagi. Sang supir seorang pemuda dengan umur 25-28 tahun, berambut pendek, setengah ikal, kulit kecoklatan, tinggi 175 cm lebih.

Sebuah kecelakan terjadi di jalur tol Porong-Surabaya pada kilometer 18. Awalnya sedan itu hendak menuju ke Bandara Udara Juanda Surabaya, sedikit tergesa, hati yang gundah dan mungkin otak yang sedang kalut, ditambah lagi hari yang sedang hujan, membuat jalanan menjadi licin dan kombinasi itu semua yang akhirnya kecelakaan itu terjadi. Sedan meluncur dengan kecepatan hampir 120 km/jam, kecepatan yang sangat riskan kecelakaan jika tidak disertai dengan konsentrasi yang sangat tinggi dan memang itu yang pada akhirnya terjadi.Pemuda itu baru tersadar bahwa ada sebuah truk dengan kecepatan yang lambat di depannya ketika jarak tinggal 10 meter lagi. Rem seampuh apapun tidak akan bisa menghentikan laju kendaraannya dengan jarak 10 meter apalagi ditambah dengan jalanan yang basah. Sesaat dia berfikir, mungkin lebih baik aku menginjak pedal gas dari pada pedal rem, dari pada aku nanti mesti sakit, sekarat atau yang terburuk adalah koma, maka lebih baik mati sekalian. Maka semakin dalamlah dia menginjak pedal gas kendaraannya.

Diantara sadar dan tidak, semua kenangan dia berkelebat di otaknya, semua perjalanan hidupnya, semua dosa-dosanya, semua keinginannya, dan terutama kemana sebenarnya hari itu dia akan pergi.

Diantara hidup dan mati itulah, dia berfikir, bahwa selama ini ternyata dia telah menjadi seseorang yang apatis skeptis, terlalu tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya, tidak perduli dengan orang-orang yang menyayangi dia, menutup hati, mata dan teling dari yang namanya cinta, sehingga pada saat itu baru dia merasakan hampa dan kosong yang teramat sangat.

Hingga suatu saat, tatkalan kesadarannya belum juga pulih, angannya membawa dia kepada seseorang yang beberapa bulan terakhir membuat hari-harinya terlihat lebih berwarna dari pada biasanya, tidak hanya warna abu-abu, hitam dan putih. Seseorang yang telah menghancurkan dinding-dinding egonya yang tebal, dinding angkuh dan ke-aku-an yang sangat akut, bahwa dia bisa hidup didunia ini sendiri tanpa kehadiran seorang wanita sebagi pendamping. Semua itu runtuh, hancur dan terkeping disaat hari-harinya mulai diisi oleh kehadiran seorang wanita. Seseorang yang mungkin pernah dia pandang sebelah mata, seseorang yang biasa, seseorang yang hanya sebagai teman bicara, tapi entah dari mana datangnya rasa yang tidak bisa dia kendalikan itu muncul. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjalani sisa hidupnya yang ada untuk menjalin hubungan dengan wanita itu.

Terbayang di pikiran dia, suatu ketika sang wanita bertanya, kenapa dia mencintai sang wanita itu, saat itu dia menjawab, dengan semua sifat yang bisa dia temukan pada diri sang wanita, semua hal yang kasat maupun tidak kasat mata, dan sang wanita mengatakan bahwa itu adalah jawaban yang biasa, jawaban seperti layaknya mantan-mantan sang wanita terdahulu. Tapi sekarang antara alam hidup dan mati dia lebih bisa berfikir kenapa dia mencintai wanita itu, sama seperti halnya kenapa 2×2=4, ya…cinta itu ABSURD. Memang seharusnya begitu. Dia menyadari, menumbuhkan rasa cinta itu mudah, tapi menumbuhkan rasa saling percaya itu jauh lebih sulit dan rumit. Dia berfikir keras bagaimana caranya menumbuhkan rasa saling percaya, tapi otaknya yang sangat dangkal tidak mampu diajak berfikir ke arah itu. Yang dia tau, dia mesti mati berusaha untuk hal itu.

Kembali angannya melayang, dia berfikir, mungkin aku sudah mati dan sekarang aku berada di neraka. Seketika dia merasa sedih, sedih bukan karena dia harus berada di neraka, memang dia merasa sedih dengan segala dosa-dosanya, tapi lebih sedih lagi karena dia tidak bisa melewatkan sisa umurnya dengan baik dengan seseorang yang dia cintai, bahkan membuat sang wanita itu sakit hati dan marah. Sedih karena dia belum dimaafkan, yang berarti pula kesalahannya begitu besar untuk sekedar mengucap maaf.

Terbayang kembali kenangan indah saat bersama dengan seseorang itu, dia tersenyum getir, dia berfikir, sekiranya sekarang aku mati, mungkin memang aku bukan yang terbaik untuk dia. Mungkin memang seperti inilah seharusnya untuk menebus segala kesalahanku kepada dia.

Pemuda itu menyadari, dia bukan pria yang sempurna, tapi dia merasa jika masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup, dia akan berusaha memperbaiki hidupnya. Melakukan segalanya yang diperlukan untuk sang wanita. Di akhir angannya sebelum semuanya berubah hitam pekat dan hilang, dia melihat wanita itu di ujung jalan, dengan wajah terpaling, dia berusaha keras untuk memanggil, tapi suaranya tercekat dan hilang, dia berusaha keras untuk mengucapkan maaf, tapi lehernya dicekik sesuatu yang menariknya ke sebuah lingkaran cahaya. Tanpa bisa melawan dia terseret ke pusaran cahaya tersebut, meskipun terlihat sebagai pusaran cahaya, tapi ketika dia masuk ke dalam pusaran itu, kegelapan yang pekat menerkam dia dan seakan tidak akan dilepaskan. Sesak dan sakit didada tidak dia hiraukan, yang ada di angannya saat itu bagaimana aku mengatakan maaf kepada wanita itu, yang berdiri di ujung jalan, tangannya terus menggapai tapi tiada pegangan yang bisa di raihnya. Kemudian semuanya gelap, hitam dan tenggelam.

bareng-bareng

Liburan barusan kemarin selama 3 hari saya ke Bekasi. Pulang pergi naik pesawat. Pada perjalanan pulang, di sebelah saya duduk ada sepasang suami istri yang sudah berumur, sudah tua maksudnya. Kalo sekedar berumur, saya juga berumur, punya umur maksudnya, dan ada arah ke yang tua itu.

Pada awalnya saya tidak memperhatikan pasangan sepuh itu. Seperti biasa perjalanan dengan dengan pesawat, saya selalu memikirkan diri sendiri, duduk dengan nomor kursi yang tertera di boarding pass, memanjatkan doa-doa, apa lagi bepergian dengan cuaca seperti sekarang, musim hujan lebat, mencari bacaan yang biasanya ada di tempat majalah depan saya, menyandar di kursi, selesai sudah.

Tapi biarpun perjalanan Jakarta-Surabaya hanya ditempuh selama 1 jam 20 menit, cukup membuat saya kebosanan di tempat duduk saya. Entah karena majalah yang di depan saya adalah majalah lama yang sudah pernah saya baca atau karena memang saya sedang tidak minat membaca. Maka, dengan sedikit jiwa iseng, saya mulai memperhatikan kedua pasangan sepuh itu.

Mereka terlihat mesra, mesra dalam arti bukan berpelukan, tapi mereka terlibat pembicaraan yang sangat mesra jika di lihat, dan yang pasti mereka sedang menceritakan hal-hal yang lucu, karena kadang sang istri tertawa ketika sang suami bercerita dan begitu pula sebaliknya. Entah itu menceritakan tentang diri mereka sendiri atau mereka sedang membicarakan tentang orang lain. Bahasanya tidak terlalu dapat saya pahami.

Begitu pula pada saat landing, dan ketika hendak mengambil bagasi. Sang istri terlihat memberi penjelasan kepada sang suami, sang suami terlihat manggut-manggut seperti murid SD yang sedang di beri pelajaran oleh gurunya. Saya tersenyum melihat mereka, tersenyum karena ikut berbahagia melihat kemesraan mereka, tapi juga tersenyum karena saya iri. Suatu ketika terlihat sang suami terlihat panik karena dia lupa menaruh bukti bagasi yang digunakan untuk validasi barang bagasi, dia terlihat bertanya kepada sang istri, tapi istrinya malah balik bertanya kepada sang suami. Sekali lagi saya merasa trenyuh, trenyuh karena pada usia sedemikian sepuh seyogyanya sang cucu atau anak menemani perjalanan mereka, tapi juga saya tersenyum karena melihat mereka begitu bahagia. Enaknya bisa bareng-bareng, pikun bareng-bareng.

Setelah saya mengamati beberapa lama, saya tersenyum getir. Tersenyum getir karena melihat pasangan sepuh itu, seakan-akan mereka menampari wajah saya berganti-ganti. Nurani saya tiba-tiba bergolak dengan pertanyaan. Maukah dan bisakah saya hidup bertoleransi dengan satu pasangan? Komitmen?? Arti komitmen saya tau, tapi pelaksanaannya?? Jangan di tanya.

Saya teringat ketika saya mengobrol dengan teman lama saya yang sudah menikah. Saya bertanya, sudah berapa lama dia menikah, dia menjawab 5 tahun. Saya bertanya lagi, tidakkah membosankan menjalani hidup bersama selama itu dengan orang yang sama? Dia menjawab, kebosanan itu selalu ada, tapi dia berusaha menciptakan hal-hal bersama yang bisa mengusir kebosanan itu, kejutan-kejutan kecil setiap saat. “Paling mudah itu, istri dan saya selalu sms-smsan dimanapun kami berada dan kapan saja”

Belum dia menyelesaikan jawabannya, sebuah sms masuk ke HP nya, ternyata dari sang istri. “Nah kan…kayak begini ini. Seneng kan?”

Kemesraan itu memang mesti di jaga, kebosanan itu mesti dihadapi dan diolah, bukan di hadapi dan berkeluh kesah. Mungkin selama ini saya salah, kebosanan saya hadapi dengan berkeluh kesah. Itu pula yang menyebabkan saya loncat kesana-kemari, seperti belalang, dari satu ladang ke ladang yang lain, dari satu rumput ke rumput yang lain. Saya lupa saya tidak bisa menghadapi kebosanan. Mungkin itu pula yang membuat saya mudah putus asa dalam mempertahankan sebuah hubungan selama mungkin atau kalo mungkin selamanya.

Menjaga kemesraan dan mengolah kebosanan selama berpuluh tahun memang tidak mudah, membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar.

Di dadaku ada senyummu, ada cintamu, ada hasratmu, ada kumismu, ada kupingmu, di dalam dadaku ada kamu. Di hatiku tersimpan wajahmu, tersimpan marahmu dan juga tangismu. Ingat kata-kata ini. Mbak Vina Panduwinata yang kasih tahu, sudah saya praktikkan, lumayan tokcer.

Belajar berhenti lirak-lirik, muter kesana-kemari, usahakan wajah tetap menghadap ke depan, ke wajah pasangan anda.

Bimbinglah pikiran, hati, dada, jantung, dan hasrat Anda kepada satu orang saja. Jadi, yang perlu bimbingan belajar itu bukan cuma anak Anda. Kerjakan pekerjaan rumah Anda, jangan menyuruh orang lain melakukannya. Learning by doing itu penting.

Kalau Anda diberi rasa cinta oleh yang menciptakan Anda, itu untuk kebaikan. Cinta memang seharusnya ditabur di tempat yang benar dan rajin disiangi.

kebenaran nilai moral

Banyak orang menganggap kebenaran dan nilai moral adalah tentang berbuat baik dan berkata jujur, tentang hidup yang sesuai dengan hukum. Tapi menurut saya kebenaran dan nilai moral adalah tentang memperjuangkan sesuatu yang berharga di hidup kita dan meletakkannya di atas segalanya. Bagaimana kita bisa berkorban untuk sesuatu itu. Karena resiko yang akan kita hadapai sangatlah sepadan.

Older Posts »