bareng-bareng
Dec 20th, 2008 by navirius
Liburan barusan kemarin selama 3 hari saya ke Bekasi. Pulang pergi naik pesawat. Pada perjalanan pulang, di sebelah saya duduk ada sepasang suami istri yang sudah berumur, sudah tua maksudnya. Kalo sekedar berumur, saya juga berumur, punya umur maksudnya, dan ada arah ke yang tua itu.
Pada awalnya saya tidak memperhatikan pasangan sepuh itu. Seperti biasa perjalanan dengan dengan pesawat, saya selalu memikirkan diri sendiri, duduk dengan nomor kursi yang tertera di boarding pass, memanjatkan doa-doa, apa lagi bepergian dengan cuaca seperti sekarang, musim hujan lebat, mencari bacaan yang biasanya ada di tempat majalah depan saya, menyandar di kursi, selesai sudah.
Tapi biarpun perjalanan Jakarta-Surabaya hanya ditempuh selama 1 jam 20 menit, cukup membuat saya kebosanan di tempat duduk saya. Entah karena majalah yang di depan saya adalah majalah lama yang sudah pernah saya baca atau karena memang saya sedang tidak minat membaca. Maka, dengan sedikit jiwa iseng, saya mulai memperhatikan kedua pasangan sepuh itu.
Mereka terlihat mesra, mesra dalam arti bukan berpelukan, tapi mereka terlibat pembicaraan yang sangat mesra jika di lihat, dan yang pasti mereka sedang menceritakan hal-hal yang lucu, karena kadang sang istri tertawa ketika sang suami bercerita dan begitu pula sebaliknya. Entah itu menceritakan tentang diri mereka sendiri atau mereka sedang membicarakan tentang orang lain. Bahasanya tidak terlalu dapat saya pahami.
Begitu pula pada saat landing, dan ketika hendak mengambil bagasi. Sang istri terlihat memberi penjelasan kepada sang suami, sang suami terlihat manggut-manggut seperti murid SD yang sedang di beri pelajaran oleh gurunya. Saya tersenyum melihat mereka, tersenyum karena ikut berbahagia melihat kemesraan mereka, tapi juga tersenyum karena saya iri. Suatu ketika terlihat sang suami terlihat panik karena dia lupa menaruh bukti bagasi yang digunakan untuk validasi barang bagasi, dia terlihat bertanya kepada sang istri, tapi istrinya malah balik bertanya kepada sang suami. Sekali lagi saya merasa trenyuh, trenyuh karena pada usia sedemikian sepuh seyogyanya sang cucu atau anak menemani perjalanan mereka, tapi juga saya tersenyum karena melihat mereka begitu bahagia. Enaknya bisa bareng-bareng, pikun bareng-bareng.
Setelah saya mengamati beberapa lama, saya tersenyum getir. Tersenyum getir karena melihat pasangan sepuh itu, seakan-akan mereka menampari wajah saya berganti-ganti. Nurani saya tiba-tiba bergolak dengan pertanyaan. Maukah dan bisakah saya hidup bertoleransi dengan satu pasangan? Komitmen?? Arti komitmen saya tau, tapi pelaksanaannya?? Jangan di tanya.
Saya teringat ketika saya mengobrol dengan teman lama saya yang sudah menikah. Saya bertanya, sudah berapa lama dia menikah, dia menjawab 5 tahun. Saya bertanya lagi, tidakkah membosankan menjalani hidup bersama selama itu dengan orang yang sama? Dia menjawab, kebosanan itu selalu ada, tapi dia berusaha menciptakan hal-hal bersama yang bisa mengusir kebosanan itu, kejutan-kejutan kecil setiap saat. “Paling mudah itu, istri dan saya selalu sms-smsan dimanapun kami berada dan kapan saja”
Belum dia menyelesaikan jawabannya, sebuah sms masuk ke HP nya, ternyata dari sang istri. “Nah kan…kayak begini ini. Seneng kan?”
Kemesraan itu memang mesti di jaga, kebosanan itu mesti dihadapi dan diolah, bukan di hadapi dan berkeluh kesah. Mungkin selama ini saya salah, kebosanan saya hadapi dengan berkeluh kesah. Itu pula yang menyebabkan saya loncat kesana-kemari, seperti belalang, dari satu ladang ke ladang yang lain, dari satu rumput ke rumput yang lain. Saya lupa saya tidak bisa menghadapi kebosanan. Mungkin itu pula yang membuat saya mudah putus asa dalam mempertahankan sebuah hubungan selama mungkin atau kalo mungkin selamanya.
Menjaga kemesraan dan mengolah kebosanan selama berpuluh tahun memang tidak mudah, membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar.
Di dadaku ada senyummu, ada cintamu, ada hasratmu, ada kumismu, ada kupingmu, di dalam dadaku ada kamu. Di hatiku tersimpan wajahmu, tersimpan marahmu dan juga tangismu. Ingat kata-kata ini. Mbak Vina Panduwinata yang kasih tahu, sudah saya praktikkan, lumayan tokcer.
Belajar berhenti lirak-lirik, muter kesana-kemari, usahakan wajah tetap menghadap ke depan, ke wajah pasangan anda.
Bimbinglah pikiran, hati, dada, jantung, dan hasrat Anda kepada satu orang saja. Jadi, yang perlu bimbingan belajar itu bukan cuma anak Anda. Kerjakan pekerjaan rumah Anda, jangan menyuruh orang lain melakukannya. Learning by doing itu penting.
Kalau Anda diberi rasa cinta oleh yang menciptakan Anda, itu untuk kebaikan. Cinta memang seharusnya ditabur di tempat yang benar dan rajin disiangi.
Kemesraan yang layak diteladani
Hebat ya mreka bisa m enjaga komitmen selama itu.. dan tetap bahagia..
Apakah ada informasi mengenai hal ini dalam bahasa lain